Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2017

[REVIEW] Garnish



Mencari Arti Kebahagiaan


Judul               : Garnish         
Penulis             : Mashdar Zainal
Penerbit           : de Teens
Cetakan           : 1, April 2016
Tebal               : 220 halaman
ISBN               : 978-602-391-126-4

            Pertemuan dua anak manusia yang awalnya saling tak mengenal. Buni, cowok yang suka memasak namun ditentang oleh mamanya. Serta Anin, cewek yang suka melukis, tapi dilarang oleh ayahnya. Mereka dipertemukan oleh takdir untuk mencari arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
            Buni yang telah menjadi sarjana disuruh mamanya untuk melamar pekerjaan, namun tak ada yang tembus. Sedari awal ia memang tak berminat menjadi ekonom seperti papanya. Ia lebih menyukai dapur, dunia yang dicintainya. Pertengkaran Buni dengan mamanya adalah sesuatu yang biasa. Puncaknya, ketika Buni memasakkan nasi goreng sebagai kado untuk ulang tahun mamanya. Nasi goreng itu dibuang ke tong sampah oleh mamanya. Buni kabur dari rumah dengan melumuri tubuhnya dengan saus dan kecap karena merasa mamanya keterlaluan (hlm. 9-10)
            Sementara Anin, ia mempunyai bakat melukis, turunan dari ibunya yang telah meninggal. Ia merasa kesepian, meski ada Mimi dan suaminya, pembantu yang ada di rumahnya. Ayahnya sibuk dengan pekerjaannya sebagai pejabat. Beliau tinggal di rumah dinas bersama istri barunya. Anin menghilangkan kejenuhannya dengan melukis. Namun, Mimi melaporkan kegiatan baru Anin kepada ayahnya. Sang ayah segera saja melarang Anin, alasannya melukis itu adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seniman pengangguran, dan juga bisa mengotori rumah. Anin muak dengan peraturan-peraturan ayahnya yang membuatnya seperti robot. Akhirnya, ia menumpahkan cat aneka warna ke seluruh tubuhnya, dan kabur dari rumah (hlm. 17-18).
            Di taman kota, Buni dan Anin bertemu. Mereka tertawa dan akhirnya bercerita tentang alasan tubuh mereka kotor. Anin mengajak Buni ke sanggar lukis Bli Sutha. Ia meminta pada Bli Sutha untuk memperbolehkan ia dan Buni menginap di sanggar. Ia juga menceritakan kejadian yang menimpanya dan Buni kepada Bli Sutha.
            Esoknya, Bli Sutha memberi pengertian kepada Anin dan Buni bahwa kabur takkan menyelesaikan masalah. Ternyata Bli Sutha telah menelepon ayah Anin. Tak lama, ayah Anin datang menjemput Anin. Di rumah, Anin diberi penjelasan oleh ayahnya. Ayahnya melembut. Anin diijinkan untuk melakukan apa pun yang Anin inginkan, termasuk melukis. Anin boleh bebas, tapi tetap memiliki aturan (hlm. 50-51).
            Buni yang merasa tak enak dengan Bli Sutha karena takut merepotkan, memutuskan untuk pulang. Namun, mamanya tetap mencibir Buni yang belum mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Ketika Buni menginjakkan kaki di dapur, mamanya kembali memarahinya. Untuk kedua kalinya, Buni kabur dari rumah karena merasa mamanya tak menginginkan ia berada di rumah (hlm. 69).
            Buni menghubungi Anin. Dengan senang hati Anin mengijinkan Buni untuk datang ke rumahnya. Buni memasak di rumah Anin, membuat martabak dan minuman cinnamon. Buni sudah seperti chef profesional.
            Anin punya ide. Ia ingin membuat sebuah kafe sekaligus galeri untuk memulai bisnis kecil-kecilan dengan Buni. Lokasi yang digunakan adalah rumah yang dulunya pernah dibeli ayah Anin untuk dijadikan kafe dan galeri tersebut. Mereka mulai merancang nama dan menu-menu yang akan disajikan untuk kafe dan galeri mereka. Tercetuslah nama untuk kafe dan galeri mereka, yaitu Garnish Cafe and Gallery. Garnish yang berarti hiasan, dan sebuah karya seni juga butuh garnis, butuh hiasan supaya elok dipandang mata. Mereka ingin membuktikan passion mereka (hlm. 127).
            Pertama dibuka, hanya sedikit pengunjung yang datang. Namun, lama-kelamaan semakin banyak pengunjung yang datang, meski hanya sekadar memesan cinnamon, menu minuman andalan Garnish, atau hanya untuk melihat-lihat lukisan.
Masalah mulai datang ketika mama Buni terserang stroke. Buni terpaksa meninggalkan Garnish dan Anin. Ia merawat mamanya sampai pulih. Mamanya minta maaf pada Buni karena telah memaksakan egonya. Belum lagi Anin yang mengalami kecelakaan. Tulang tangan kanan dan kakinya patah. Padahal ia akan mengikuti festival melukis. Buni memberi saran supaya Anin tidak perlu ikut, tapi Anin bersikeras ikut. Meski lukisannya tidak menang, namun ia akan terus melatih tangan kanannya supaya bisa pulih seperti semula dan bisa melukis lagi. Garnish pun kembali dibuka.
            Alur cerita novel ini menarik, karena diceritakan secara bergantian dengan sudut pandang orang pertama. Banyak pesan moral yang bisa dipetik dari novel ini. Salah satunya, yaitu: kebahagiaan yang sempurna tidak terletak pada mimpi-mimpi yang berhasil kau raih, tapi pada proses bagaimana kau meraihnya (hlm. 218). (*)

[REVIEW] Harmoni



Cerita Pop VS Sastra


Judul               : Harmoni       
Penulis             : Heruka
Penerbit           : de Teens
Cetakan           : 1, April 2016
Tebal               : 240 halaman
ISBN               : 978-602-296-199-4

            Isu tentang tulisan pop dan sastra kini masih menjadi bahan perbincangan. Sebagaimana novel berjudul ‘Harmoni’ yang terinspirasi dari isu tersebut. Novel ini berkisah tentang dua tokoh utama, yaitu Paras dan Rafal yang memiliki aliran tulisan yang berbeda. Paras, penulis pop teenlit yang berkutat dengan revisian novel ketiganya yang tersendat karena editor kesayangannya berpindah genre ke bagian sastra. Sedangkan Rafal, ia masih bergeming dengan draft novel sastranya yang sebentar-sebentar dihapus, diedit, lalu frustrasi karena merasa tak berbakat menulis.
            Mereka dipertemukan dalam satu kelompok tugas kuliah. Rafal meremehkan Paras ketika mengetahui bahwa Paras hanyalah penulis teenlit yang tak mengenal nama-nama hebat di bidang kepenulisan (hal. 18-19).
            Perang batin keduanya pun berlanjut. Puncaknya, ketika Paras menjadi pembicara di Writing Clinic dan Rafal menjadi salah satu peserta. Rafal terus memberi pertanyaan yang menjatuhkan Paras tentang genre pop dan sastra. Namun, Paras berhasil menjawabnya (hal. 107-109).
            Rafal penasaran untuk membaca novel kedua Paras yang bestseller. Ia mulai menyadari bahwa karya yang dinilainya ‘sampah’, ternyata menyajikan cerita yang apik. Hubungan Rafal dan Paras mulai membaik setelah Rafal mengakui bahwa selama ini persepsinya salah tentang tulisan pop. Mereka saling berbagi cerita (hal. 136-137).
            Paras mulai menyukai Rafal. Namun, sayangnya Rafal mencintai Venus, teman SMA-nya yang kini berada di Vienna dan selalu ditunggunya. Saat liburan semester, Rafal berniat untuk mengunjungi ibunya yang berada di Polandia, sekaligus untuk meminta rujuk dengan ayahnya. Ia juga ingin menemui Venus untuk meminta kejelasan hubungan mereka. Namun, ia malah mendapat kejutan dari keduanya. Ibunya telah menikah lagi, dan Venus ternyata seorang biseksual. Konflik semakin pelik ketika Paras difitnah oleh Irene, sahabat Paras, bahwa Paras hanya ingin memanfaatkan Rafal demi proyek novel keempat Paras yang bergenre sastra.
            Rafal akhirnya berhasil menyelesaikan novel masterpiece pertamanya. Ini semua berkat seseorang yang selalu mendukungnya tanpa ia sadari, yaitu Paras.
            Alur cerita dalam novel ini menarik, dengan memberikan akhir cerita yang tak terduga. Namun, penulis harus lebih menguatkan karakter beberapa tokoh serta memfokuskan konflik utamanya supaya meninggalkan kesan yang mendalam di hati pembaca. (*)

[REVIEW] Kafe Serabi



Sepotong Cinta yang Tertinggal di Kafe




Judul               : Kafe Serabi; terkadang dibutuhkan keegoisan dalam menjalin hubungan
Penulis             : Ade Ubaidil
Penerbit           : de Teens
Cetakan           : 1, Agustus 2015
Tebal               : 188 halaman
ISBN               : 978-602-279-158-4
            
 Blurb:
            Tubuh bongsor membuat Anggun menjadi bahan bully di kampus. Jika bukan karena Tata, sugar glider peliharaannya, sertaAnton dan Mila, dua sahabatnya, rasanya ingin berhenti kuliah saja.
            Perkara cinta jangan ditanya, sudah di ambang putus asa dengan kejombloannya. Dirinya sering bertanya-tanya:
            Apa mungkin aku ditakdirkan terlahir sebagai jomblowati?
            Anggun menemukan Kafe Serabi dan Ken. Apakah cowok itu dikirim Tuhan untuknya? Di sana, Anggun mendapat jawabannya.
***
            Pertama melihat kover novel ini, saya langsung jatuh hati. Kover dengan desain kafe yang memperlihatkan tatanan ala kafe ini sungguh enak dipandang mata. Jadi, saya jatuh hati pada pandangan pertama berkat kover novel ini.
            Setelah membaca sinopsis di belakang novel ini, saya menemukan sesuatu yang menarik, lebih tepatnya saya ingin mengetahui seberapa penting peran sugar glider peliharaan Anggun Amaravati di dalam novel ini. Aneh ya, penasarannya sama binatang, bukan pada tokoh utamanya. Tapi, memang begitulah, sesuatu yang aneh terkadang membuat penasaran.
            Di novel ini diceritakan bahwa si tokoh utama; Anggun Amaravati merasa minder memiliki tubuh gempal. Dia merasa namanya tak sesuai dengan bentuk tubuhnya itu. Dirinya hanya bisa bermimpi untuk mempunyai seorang kekasih; cowok tampan baik hati yang mau menerima dia apa adanya.
Tapi, ternyata itu bukan mimpi! Tak disangka dia bertemu dengan seorang cowok tampan bernama Ken di sebuah kafe dengan serabi yang menjadi menu utamanya. Kafe Serabi namanya. Di sanalah cinta mereka bersemi. Anggun merasa bahagia setelah sekian lama menjomblo, akhirnya memiliki seorang kekasih yang ternyata perhatian. Namun, ada satu hal yang membuatnya dongkol. Ternyata, Ken adalah sepupu Nia; cewek yang suka mem-bully Anggun di kampus.
Hampir saja persahabatan Anggun dan Mila terputus karena Anggun terlambat memberitahu kalau dirinya telah berpacaran dengan Ken. Karena sebelum itu, Mila meminta bantuan Anggun untuk mencomblangkan dirinya dengan Reza; sepupu Anggun.
Siapa yang akan menyangka, setelah sebulan Anggun menjadi kekasih Ken, ada kejutan yang menanti dirinya. Sesuatu yang memaksa Anggun untuk menerima kenyataan pahit tentang ‘kekasih kilat’-nya itu. Ada benang kusut yang terjadi antara Anggun-Ken-Reza-Nia.
***
Ide cerita yang bisa dikatakan tak biasa ini perlu diacungi jempol. Detail setting tempat yang kuat membuat pembaca bisa membayangkan bagaimana rupa kota Cilegon itu. Di buku ini penulis mencoba memecah bab dengan beberapa sudut pandang. Tiap bab berbeda POV (Point of View). Ada bab yang memakai POV orang ke-3, dan ada pula yang memakai POV orang pertama. Yang cukup membingungkan adalah POV orang pertama tidak hanya mengacu pada Anggun. Namun, juga tokoh lain. Dan itu tanpa diberi keterangan siapa yang tengah disorot. Mungkin, bila diberi keterangan bisa memperlancar pembaca untuk melanjutkan membaca.
Meski ada satu-dua typo. tapi menurut saya tidak begitu mengganggu cerita. Dan saran saya, karena alur cerita di buku ini adalah alur maju, coba diberi sedikit flash back tentang kehidupan salah satu tokohnya—mungkin akan membuat pembaca merenung dan semakin penasaran akan ceritanya.
Ini adalah salah satu quote yang saya suka di novel Kafe Serabi:
“Bagiku, sahabat sejati adalah kata ganti dari orang yang memiliki pendengaran lebih, penglihatan lebih, dan kepekaan hati yang lebih dibandingkan siapa pun.” (hal. 135)
            Setelah membaca novel ini, agaknya membuat saya mengambil kesimpulan bahwa janganlah menilai seseorang itu dari fisiknya saja. Belum tentu orang yang berpenampilan baik itu hatinya juga baik. Begitu juga sebaliknya.
            Meski sinopsis di belakang buku terlihat sangat mainstream, tapi ternyata berbeda, tak sesuai dengan angan-angan pembaca. Yang tampak dari permukaan belum tentu sama dengan isinya. Terlepas dari cerita penampilan, buku ini bisa dijadikan alternatif bacaan saat kita didera rasa bosan menghadapi berbagai masalah realita cinta yang cenderung menjemukan. Karena buku ini bisa dibaca hanya dengan dua kali duduk.
            Selamat membaca!