Kamis, 16 Februari 2017

[REVIEW] Kafe Serabi



Sepotong Cinta yang Tertinggal di Kafe




Judul               : Kafe Serabi; terkadang dibutuhkan keegoisan dalam menjalin hubungan
Penulis             : Ade Ubaidil
Penerbit           : de Teens
Cetakan           : 1, Agustus 2015
Tebal               : 188 halaman
ISBN               : 978-602-279-158-4
            
 Blurb:
            Tubuh bongsor membuat Anggun menjadi bahan bully di kampus. Jika bukan karena Tata, sugar glider peliharaannya, sertaAnton dan Mila, dua sahabatnya, rasanya ingin berhenti kuliah saja.
            Perkara cinta jangan ditanya, sudah di ambang putus asa dengan kejombloannya. Dirinya sering bertanya-tanya:
            Apa mungkin aku ditakdirkan terlahir sebagai jomblowati?
            Anggun menemukan Kafe Serabi dan Ken. Apakah cowok itu dikirim Tuhan untuknya? Di sana, Anggun mendapat jawabannya.
***
            Pertama melihat kover novel ini, saya langsung jatuh hati. Kover dengan desain kafe yang memperlihatkan tatanan ala kafe ini sungguh enak dipandang mata. Jadi, saya jatuh hati pada pandangan pertama berkat kover novel ini.
            Setelah membaca sinopsis di belakang novel ini, saya menemukan sesuatu yang menarik, lebih tepatnya saya ingin mengetahui seberapa penting peran sugar glider peliharaan Anggun Amaravati di dalam novel ini. Aneh ya, penasarannya sama binatang, bukan pada tokoh utamanya. Tapi, memang begitulah, sesuatu yang aneh terkadang membuat penasaran.
            Di novel ini diceritakan bahwa si tokoh utama; Anggun Amaravati merasa minder memiliki tubuh gempal. Dia merasa namanya tak sesuai dengan bentuk tubuhnya itu. Dirinya hanya bisa bermimpi untuk mempunyai seorang kekasih; cowok tampan baik hati yang mau menerima dia apa adanya.
Tapi, ternyata itu bukan mimpi! Tak disangka dia bertemu dengan seorang cowok tampan bernama Ken di sebuah kafe dengan serabi yang menjadi menu utamanya. Kafe Serabi namanya. Di sanalah cinta mereka bersemi. Anggun merasa bahagia setelah sekian lama menjomblo, akhirnya memiliki seorang kekasih yang ternyata perhatian. Namun, ada satu hal yang membuatnya dongkol. Ternyata, Ken adalah sepupu Nia; cewek yang suka mem-bully Anggun di kampus.
Hampir saja persahabatan Anggun dan Mila terputus karena Anggun terlambat memberitahu kalau dirinya telah berpacaran dengan Ken. Karena sebelum itu, Mila meminta bantuan Anggun untuk mencomblangkan dirinya dengan Reza; sepupu Anggun.
Siapa yang akan menyangka, setelah sebulan Anggun menjadi kekasih Ken, ada kejutan yang menanti dirinya. Sesuatu yang memaksa Anggun untuk menerima kenyataan pahit tentang ‘kekasih kilat’-nya itu. Ada benang kusut yang terjadi antara Anggun-Ken-Reza-Nia.
***
Ide cerita yang bisa dikatakan tak biasa ini perlu diacungi jempol. Detail setting tempat yang kuat membuat pembaca bisa membayangkan bagaimana rupa kota Cilegon itu. Di buku ini penulis mencoba memecah bab dengan beberapa sudut pandang. Tiap bab berbeda POV (Point of View). Ada bab yang memakai POV orang ke-3, dan ada pula yang memakai POV orang pertama. Yang cukup membingungkan adalah POV orang pertama tidak hanya mengacu pada Anggun. Namun, juga tokoh lain. Dan itu tanpa diberi keterangan siapa yang tengah disorot. Mungkin, bila diberi keterangan bisa memperlancar pembaca untuk melanjutkan membaca.
Meski ada satu-dua typo. tapi menurut saya tidak begitu mengganggu cerita. Dan saran saya, karena alur cerita di buku ini adalah alur maju, coba diberi sedikit flash back tentang kehidupan salah satu tokohnya—mungkin akan membuat pembaca merenung dan semakin penasaran akan ceritanya.
Ini adalah salah satu quote yang saya suka di novel Kafe Serabi:
“Bagiku, sahabat sejati adalah kata ganti dari orang yang memiliki pendengaran lebih, penglihatan lebih, dan kepekaan hati yang lebih dibandingkan siapa pun.” (hal. 135)
            Setelah membaca novel ini, agaknya membuat saya mengambil kesimpulan bahwa janganlah menilai seseorang itu dari fisiknya saja. Belum tentu orang yang berpenampilan baik itu hatinya juga baik. Begitu juga sebaliknya.
            Meski sinopsis di belakang buku terlihat sangat mainstream, tapi ternyata berbeda, tak sesuai dengan angan-angan pembaca. Yang tampak dari permukaan belum tentu sama dengan isinya. Terlepas dari cerita penampilan, buku ini bisa dijadikan alternatif bacaan saat kita didera rasa bosan menghadapi berbagai masalah realita cinta yang cenderung menjemukan. Karena buku ini bisa dibaca hanya dengan dua kali duduk.
            Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar