Sepotong Cinta yang Tertinggal di Kafe
Judul : Kafe Serabi; terkadang
dibutuhkan keegoisan dalam menjalin hubungan
Penulis : Ade Ubaidil
Penerbit : de Teens
Cetakan : 1, Agustus 2015
Tebal : 188 halaman
ISBN : 978-602-279-158-4
Blurb:
Tubuh bongsor membuat Anggun menjadi
bahan bully di kampus. Jika bukan karena Tata, sugar glider peliharaannya,
sertaAnton dan Mila, dua sahabatnya, rasanya ingin berhenti kuliah saja.
Perkara cinta jangan ditanya, sudah
di ambang putus asa dengan kejombloannya. Dirinya sering bertanya-tanya:
Apa mungkin aku ditakdirkan terlahir
sebagai jomblowati?
Anggun menemukan Kafe Serabi dan
Ken. Apakah cowok itu dikirim Tuhan untuknya? Di sana, Anggun mendapat
jawabannya.
***
Pertama melihat kover novel ini, saya
langsung jatuh hati. Kover dengan desain kafe yang memperlihatkan tatanan ala
kafe ini sungguh enak dipandang mata. Jadi, saya jatuh hati pada pandangan
pertama berkat kover novel ini.
Setelah membaca sinopsis di belakang
novel ini, saya menemukan sesuatu yang menarik, lebih tepatnya saya ingin
mengetahui seberapa penting peran sugar glider peliharaan Anggun Amaravati di
dalam novel ini. Aneh ya, penasarannya sama binatang, bukan pada tokoh
utamanya. Tapi, memang begitulah, sesuatu yang aneh terkadang membuat
penasaran.
Di novel ini diceritakan bahwa si
tokoh utama; Anggun Amaravati merasa minder memiliki tubuh gempal. Dia merasa
namanya tak sesuai dengan bentuk tubuhnya itu. Dirinya hanya bisa bermimpi
untuk mempunyai seorang kekasih; cowok tampan baik hati yang mau menerima dia
apa adanya.
Tapi,
ternyata itu bukan mimpi! Tak disangka dia bertemu dengan seorang cowok tampan
bernama Ken di sebuah kafe dengan serabi yang menjadi menu utamanya. Kafe
Serabi namanya. Di sanalah cinta mereka bersemi. Anggun merasa bahagia setelah
sekian lama menjomblo, akhirnya memiliki seorang kekasih yang ternyata
perhatian. Namun, ada satu hal yang membuatnya dongkol. Ternyata, Ken adalah
sepupu Nia; cewek yang suka mem-bully Anggun
di kampus.
Hampir
saja persahabatan Anggun dan Mila terputus karena Anggun terlambat memberitahu
kalau dirinya telah berpacaran dengan Ken. Karena sebelum itu, Mila meminta
bantuan Anggun untuk mencomblangkan dirinya dengan Reza; sepupu Anggun.
Siapa
yang akan menyangka, setelah sebulan Anggun menjadi kekasih Ken, ada kejutan
yang menanti dirinya. Sesuatu yang memaksa Anggun untuk menerima kenyataan
pahit tentang ‘kekasih kilat’-nya itu. Ada benang kusut yang terjadi antara
Anggun-Ken-Reza-Nia.
***
Ide
cerita yang bisa dikatakan tak biasa ini perlu diacungi jempol. Detail setting tempat yang kuat membuat pembaca bisa membayangkan bagaimana rupa kota
Cilegon itu. Di buku ini penulis mencoba memecah bab dengan beberapa sudut
pandang. Tiap bab berbeda POV (Point of
View). Ada bab yang memakai POV orang ke-3, dan ada pula yang memakai POV
orang pertama. Yang cukup membingungkan adalah POV orang pertama tidak hanya
mengacu pada Anggun. Namun, juga tokoh lain. Dan itu tanpa diberi keterangan
siapa yang tengah disorot. Mungkin, bila diberi keterangan bisa memperlancar
pembaca untuk melanjutkan membaca.
Meski
ada satu-dua typo. tapi menurut saya tidak
begitu mengganggu cerita. Dan saran saya, karena alur cerita di buku ini adalah
alur maju, coba diberi sedikit flash back
tentang kehidupan salah satu tokohnya—mungkin akan membuat pembaca merenung
dan semakin penasaran akan ceritanya.
Ini
adalah salah satu quote yang saya suka
di novel Kafe Serabi:
“Bagiku, sahabat sejati
adalah kata ganti dari orang yang memiliki pendengaran lebih, penglihatan
lebih, dan kepekaan hati yang lebih dibandingkan siapa pun.” (hal.
135)
Setelah membaca novel ini, agaknya
membuat saya mengambil kesimpulan bahwa janganlah menilai seseorang itu dari
fisiknya saja. Belum tentu orang yang berpenampilan baik itu hatinya juga baik.
Begitu juga sebaliknya.
Meski sinopsis di belakang buku
terlihat sangat mainstream, tapi
ternyata berbeda, tak sesuai dengan angan-angan pembaca. Yang tampak dari
permukaan belum tentu sama dengan isinya. Terlepas dari cerita penampilan, buku
ini bisa dijadikan alternatif bacaan saat kita didera rasa bosan menghadapi
berbagai masalah realita cinta yang cenderung menjemukan. Karena buku ini bisa
dibaca hanya dengan dua kali duduk.
Selamat membaca!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar