Kamis, 16 Februari 2017

Sekelumit Kenangan Tentangmu, Mereka, dan Kota Hujan

Sekelumit Kenangan Tentangmu, Mereka, dan Kota Hujan
(Catatan Perjalanan Menuju Grand Finale Unsa Ambassador 2017)


Jumat, 9 Desember 2016

Pagi dengan ditemani ricis hujan, aku dan temanku berangkat menuju Stasiun Kutoarjo. Namanya juga bulan Desember. Kalau kata orang Jawa, Desember itu “gede-gedene sumber”.

Tidak sampai satu jam begitu sampai di stasiun, kami sudah berada di dalam kereta. Selama perjalanan, aku tidak bisa memejamkan mata barang sejenak. Entah karena terlalu senang akan bertemu dengan teman-teman Unsa atau karena takut kelewatan keretanya.

Uncle DAS memberitahuku kalau kami harus turun di Stasiun Jatinegara. Kemudian naik commuter line dan turun di Stasiun Bojonggede. Karena kami baru pertama pergi ke Bogor, akhirnya Uncle ‘mengutus’ Ken Hanggara untuk menjemput kami di stasiun. Begitu sampai, kami sibuk mencari. Lucunya, aku dan temanku merasa dikerjai oleh Bang Ken, begitu pula sebaliknya. Setelah hampir setengah jam dalam proses pencarian, akhirnya kami menemukan seorang Ken Hanggara yang tengah duduk manis di depan salah satu minimarket.

Begitu sampai di tempat inap, ternyata sudah ada beberapa orang yang sudah tiba di sana. Ada Uncle DAS, Uda Agus, Intan Andaru, dan Denny Herdy. Setelah mandi dan istirahat sejenak, kami ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu finalis Unsam satunya.

Sekitar satu setengah jam menunggu, akhirnya.... Taraaa!!! Mas Alfian muncul dengan wajah letihnya di depan pintu. Ternyata, ketika kami semua sudah rela kelaparan demi menunggu Mas Alfian, begitu datang, dianya malah mandi. Kasihan deh kami. LOL.

Meski malam telah tiba, kami yang ada di sana masih asyik membahas persiapan untuk acara besok. Sampai pukul 22.00, Uncle mengajak kami ke angkringan (eh, kalau di Bogor namanya angkringan bukan, ya?) Susu Madu Jahe (SMJ). Wow, Uncle tahu aja kalau kami lagi butuh yang hangat-hangat. #eh


Dalam kehangatan SMJ, tercipta pula kehangatan obrolan. Terlebih saat selfie. Kompak deh kami. Haha. Saat itu juga, aku mengetahui kalau seorang Ken Hanggara itu hanya flat mukanya waktu foto. Ternyata setelah ketemu... dia senyum-senyum nggak jelas. Mana jago pula nge-bully orang #duh. Atau aku yang bully-able ya? :/


Sabtu, 10 Desember 2016

Hari ini kami berangkat ke SMA Al-Madinah Cibinong untuk memperkenalkan Komunitas Untuk Sahabat kepada adik-adik sekolah. Kata Bang Ken, nanti di sana finalis top 2 Unsam disuruh ikutan sharing. Dan ternyata memang benar.

Di sana, kami disambut hangat oleh Kepala Sekolah beserta guru-guru SMA Al-Madinah. Karena murid-murid SMA sedang UAS, jadilah adik-adik SMP yang mengikuti acara tersebut.
Setelah perkenalan, sedikit sharing, akhirnya sampai juga pada acara lomba puisi yang akan diikuti adik-adik sekolah tersebut. Dan ternyata.... puisi yang dibaca nantinya adalah puisi finalis top 3 dari tugas unsam kemarin! Deg-degan lah yaa...

Belum lagi ada Teteh Silvia serta Kang Khoer Jurzani, penyair nasional yang menjadi juri lomba. Lumayan banyak juga yang ikut lomba. Ada 20 adik-adik. Dan dari ke-20 peserta, puisi yang paling banyak dibaca adalah puisi milikku. Mungkin karena simpel, ya...

Acara di SMA Al-Madinah selesai, dan kami pun kembali ke penginapan. Sampai di sana, kebanyakan dari kami bukannya tidur, melainkan saling menceritakan pengalaman hidup masing-masing. Tidak lupa sambil ngemil tentunya. Oleh-oleh yang dibawakan Mas Ilham Fauzi begitu melimpah. Pantas saja, barang setoko dibawa semua olehnya.

Jam lima sore, kami diajak Uncle ke Mie Janda di Cibinong. Yang punya usaha Mie Janda itu adalah Kang Achoey, suami dari Teh Silvia. Penasaran kan, Mie Janda itu apa? Jika kalian membaca daftar menu, kalian pasti bingung. Aku pun begitu. Karena apa? Menu-menunya sungguh sulit diprediksi. Ada Mie Janda Kriuk, Mie Janda Tajir, Mie Janda Pedas, Es Duda, dan sebagainya. Akhirnya, karena bingung, aku memilih Mie Janda Kriuk. Dan entah kenapa, Mas Alfian ikut-ikutan memilih Mie Janda Kriuk pula setelah aku sebutkan pilihanku. #terindikasiBaper


Tentu saja, kami tak mau kehilangan momen langka ini. Lagi-lagi kami selfie. Begitulah. Kami adalah para pemburu selfie. LOL.

Begitu sampai di tempat inap, kami beristirahat. Tentunya tak langsung tidur. Mas Denny yang mencium bau harum masakan pun segera makan lagi. Sedang yang lain sibuk dengan obrolan masing-masing, aku dan Mas Alfian sempat mengobrol sebentar perihal besok pagi. Ya, besok adalah puncak acara, saat yang menentukan siapa di antara kami yang menjadi penerus Mas Ilham. Mas Alfian setelah mengobrol denganku, sepertinya sibuk belajar untuk esok hari. Sedang aku, memilih tidur karena hari sudah larut.


Minggu, 11 Desember 2016

Bissmillah...

Pagi menyapa. Kami antri mandi seperti biasa sambil mengobrol hal-hal yang dirasa lucu, supaya bisa melepas ketegangan.

Begitu semua sudah siap, kami bergantian diantarkan ke tempat acara. Ternyata, eh ternyata... Aku baru tahu, Mas Alfian memakai baju batik yang warnanya senada denganku. Aku pink keungu-unguan, dia ungu. Hei, Mas Al, kamu peramal ya, bisa tahu apa yang akan kupakai?


Sebelum acara dimulai, kami lagi-lagi sibuk berfoto. Dan ah, seharusnya aku bawa high heels-ku supaya saat foto tidak terlihat begitu mungil. Dan... ya ampuun, begitu disandingkan dengan Mas Alfian, tinggiku... Ah, sudahlah, aku tak bisa menjelaskannya. :’)

Acara pun dimulai. Sebelumnya, perkenalkan dulu juri-juri yang akan menilai. Mereka adalah Uda Agus, Ken Hanggara, Sandza Khawarizmi, Khoer Jurzani, Oke Sudradjat, dan Kang Achoey. Jantungku mulai berdetak lebih cepat, begitu pertanyaan-pertanyaan dari keenam juri diluncurkan. Takutnya, ada pertanyaan yang tak bisa kujawab, dan ternyata benar, memang ada yang tak bisa kujawab. #huft

Saat jam istirahat siang, aku baru mengetahui kalau ada kawan-kawan penulis yang datang untuk mendukungku *lalu aku kepedean*. Mereka adalah Ade Ubaidil, Majenis Panggar Besi atau yang biasa kusapa dengan Kak Ojan, serta Uni Novitasari. Tahu, kan, apa yang kami perbuat setelah itu? Yap, selfie! \(^_^)/

Saat jam istirahat siang sudah mau usai, Mbak Diaa Gaara datang dengan menggendong putranya yang nggemesin. Tentu saja kami selfie lagi. Ya, dalam acara ini kebanyakan memang selfie melulu. Hehe...
Acara kembali dimulai. MC mengatakan kalau pengumuman pemenang Unsam adalah saat paling akhir supaya kami deg-degan dulu. Kang Khoer sudah siaga dengan kostumnya; memakai kerudung putih, memakai topeng, dan membawa kembang sedap malam. Beliau membacakan puisinya dengan penuh ekspresi. Sungguh, aku sampai merinding mendengarnya. Belum lagi suara tawa hi-hi-hi yang terus menggema di kepalaku. Dan syukurlah, begitu Kang Khoer selesai membacakan puisi, selanjutnya sang pemilik pabrik cerpen di kepala yang mengisi acara. Jadi, suara hi-hi-hi itu berubah menjadi suara Bang Ken.

Selanjutnya, peluncuran buku terbitan Unsa terbaru: Kupu-kupu Kematian (Cerpil Unsa) dan Mimpi Merah Hari Ke-40 (Lomba Menulis Cerpen bersama Uda Agus). Para pemenang beserta kontributor yang datang disuruh maju. Kuhitung ada enam orang yang maju. Mereka adalah Ade Ubaidil, Ken Hanggara, Denny Herdy, Uda Agus, Atissa Puti, dan aku. Kami diharapkan bisa mempromosikan buku kami di depan umum. Dan nyatanya, Ade cocok sekali jadi Sales Promotion Boy. Hoho...

Setelah tawa memenuhi ruangan, sampailah kami pada acara yang dinanti, yaitu penentuan juara Unsa Ambassador 2017. Suara Kang Achoey sebagai MC membuat rasa deg-degan-ku makin besar. Dan setelah beberapa menit aku dan Mas Alfian dipajang di depan, akhirnya Kang Achoey menyuarakan bahwa juara Unsa Ambassador 2017 adalah Mas Alfian. Alhamdulillah... Selamat ya, Mas Alfian. Kamu memang hebat! Sungguh. Kuakui itu. Semoga bisa menjadi yang lebih baik dari Unsa Ambassador sebelumnya. Aamiin...



Senin, 12 Desember 2016

Tak terasa, aku sudah empat hari di Bogor. Dan aku merasa menjadi aktris yang paling hebat saat akan pergi dari Bogor. Aku tersenyum dan menyalami semua sahabat, seolah perpisahan ini bukan apa-apa. Tapi, sungguh, kalau boleh jujur, aku sedih. Sebenarnya aku tak menyukai perpisahan. Tapi, apa daya, waktu yang tak mengijinkanku untuk lebih lama lagi berada di Bogor.


Aku senang. Aku bahagia. Entah, kata apalagi yang mampu melukiskan betapa aku gembira bertemu dengan penulis-penulis keren seperti kalian.

Pertama, Mas Alfian. Aku mengenalnya begitu kami lolos Top 10 Unsam. Kami mulai akrab sejak ada tugas duet komedi. Dan ternyata, kami berhasil melaju ke top 2. Selamat jadi juara, Mas! Kalau boleh jujur, aku sudah punya feeling kalau kamu yang akan menang. Jadi, tenang saja, aku sedih bukan karena kalah, kok. Karena bagiku, tak ada menang atau kalah, yang terpenting adalah rasa persahabatan. Semoga kita bisa bertemu kembali, ya. 

Kedua, Bang Ken Hanggara. Sungguh, aku tak menyangka bisa bertemu dengan penulis cerpen yang dulu kuidolakan. Aku mengira dia itu hanya bisa memasang tampang serius dan flat. Ternyata, dia baik, mau mengantarkanku dan temanku ke stasiun pagi-pagi. Padahal kereta dia jam dua siang. Terima kasih, Bang! Oh ya, aku baru tahu, kalau dia selain hobi nulis dan baca, dia juga hobi mandi. Sehari bisa lima kali!

Ketiga, Uncle DAS. Terima kasih banyak, Uncle... Terima kasih sudah mengajak saya ke Bogor dan bertemu dengan orang-orang keren. Mohon maaf bila Uncle dan saudara banyak direpotkan oleh kami. Semoga di lain kesempatan bisa bertemu lagi dengan keluarga Unsa.

Keempat, Mas Ilham Fauzi. Terima kasih sudah mendukungku, Mas. Terima kasih pemberian bukunya. Yakinlah, akan kubaca buku tersebut. Terima kasih juga oleh-olehnya. Awalnya, kukira Mas Ilham itu juga seperti Bang Ken. Ternyata tidak. Jangan bersedih karena Mas Ilham sudah menjadi “mantan” ya... Karena selalu ada mantan yang mengiringi prestasi sang juara. #eh

Kelima, Uda Agus. Terima kasih, Uda, sudah meloloskan cerpen saya, sehingga bisa seantologi dengan Uda. Maafkan saya, Uda, karena awalnya saya tidak mengenali Uda. Ternyata Uda kalem-kalem berwibawa.

Keenam, Mas Denny yang sangat hapal dengan bau-bau makanan. Maafkan aku yang awalnya tak mengenalimu, padahal kami pernah bertemu.

Ketujuh, Mbak Intan. Meski kami sudah pernah bertemu sebelumnya, tapi aku berharap masih bisa bertemu kembali. Kita main WW kapan-kapan ya, gaes~

Kedelapan, Ade Ubaidil. Ade, makasih ya dukunganmu. Ternyata, kamu masih tetap menjadi Ade #yaiyalah. Meski banyak yang bilang kamu songong, tapi tetep... tetep songong! #eh Gak, De. Bercanda kok. Sukses skripsinya, ya...!

Kesembilan, Uni Novitasari. Uni, makasih sudah datang ya... Senang akhirnya bisa bertemu Uni. Semoga kapan-kapan kita bisa bertemu kembali ya, Uni...

Kesepuluh, Kak Ojan. Akhirnya kita bertemu lagi, Kak Ojan! Ternyata Kak Ojan nggak berubah ya :D #dikiraPowerRangers Makasih sudah datang dan mendukungku ya, Kak Ojan.

Kesebelas dan seterusnya, yang tak bisa kusebutkan satu persatu namanya, terima kasih banyak sudah membaca catatan ini. Maaf kalau aku menebarkan virus baper. Hehe...
Terima kasih kepada juri Unsam yang telah meloloskan cerpenku saat seleksi. Terima kasih sahabat-sahabat Unsa. Semoga kita selalu menyebarkan semangat literasi kepada orang banyak.


Repost: 17 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar